Oleh: ekodewi | 9 Juli 2010

Kesulitan

4 Cara Kesulitan Membuat Anda Menjadi Orang yang Lebih Baik

1. Kesulitan dapat membuat kita lebih cerdas. Sudah menjadi pengetahuan umum di zaman sekarang bahwa setiap pengalaman hidup yang tidak biasa – seperti mengambil rute yang berbeda untuk bekerja di pagi hari – akan menantang otak, membantu untuk tetap sehat, aktif dan gesit (seperti halnya berolahraga akan menyehatkan tubuh). Ketika kita sedang mengalami kesulitan, kita dihadapkan dengan segala macam teka-teki untuk diselesaikan – pertanyaan-pertanya an seperti bagaimana menemukan cara-cara kreatif untuk menabung uang, misalnya. Segala masalah yang kita harus pecahkan adalah olah raga yang bagus buat otak kita. Dan menurut para peneliti; bahkan depresi pun dapat meningkatkan kemampuan mental kita.
2. Kesulitan dapat membuat kita lebih berempati. Orang-orang yang telah melalui kesulitan apa pun – apakah itu tiba-tiba kehilangan pekerjaan atau orang yang dicintai – lebih memiliki belas kasih kepada orang-orang yang sedang mengalami keadaan yang serupa. Dan kemampuan untuk berempati sangat berguna dalam berbagai situasi. Mampu menempatkan diri pada posisi orang lain membuat kita menjadi atasan atau rekan kerja yang lebih baik, pasangan atau kekasih yang lebih baik, dan teman yang lebih baik. Hal ini membantu kita untuk merasakan hubungan yang lebih dalam dan lebih memuaskan dengan segala macam orang.
3. Kesulitan dapat membuat kita lebih kuat. Ketika kita telah berhasil melalui suatu keadaan yang sangat sulit – seperti melewati sebuah ujian yang sangat sulit dengan menghabiskan banyak waktu untuk belajar atau melalui periode penuh tekanan di tempat kerja, dan lain-lain – kita cenderung akan mendapatkan rasa percaya diri. Dalam melalui segala kesulitan itu, kita tidak hanya belajar untuk bertahan hidup, kita pun memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap diri kita dan batas-batas kemampuan kita.
4. Kesulitan bisa mempertajam emosi kita. Setiap kali saya mengalami kesulitan, saya menemukan banyak hal yang indah di dunia ini, seperti matahari terbit dan terbenam, suara azan, teriakan bahagia anak-anak di taman bermain, aroma jeruk, segala jenis musik, dan kicauan burung di luar jendela saya. Hal yang biasa-biasa saja secara paradoks mengisi saya dengan berbagai harapan, bahkan di tengah keputusasaan; dunia yang penuh dengan keagungan seperti ini adalah dunia yang layak kita tempati, bukan? Dengan mengalami emosi mendalam tersebut di masa-masa sulit akan membantu untuk membuat hidup kita lebih kaya dalam berbagai macam caranya. Hal ini tidak hanya memperdalam dampak yang kita rasakan ketika kita membaca buku yang bagus atau melihat film yang baik, misalnya, tetapi juga membuat perasaan kita terhadap pasangan, orangtua, teman, menjadi jauh lebih kaya. Dengan kata lain, hal ini membantu kita untuk menemukan makna dalam hidup kita.

Best Regards, -adithia-

Oleh: ekodewi | 6 Juli 2010

Kenali Teror Mental dalam kehidupan

KENALI TEROR MENTAL DALAM KEHIDUPAN

Salah satu fenomena yang dapat kita lihat di dunia ini adalah, selalu lebih sedikit jumlah pemimpin daripada jumlah pengikut (tentu saja, kan..?). Juga selalu lebih sedikit jumlah orang sukses daripada orang gagal. Lebih sedikit jumlah pemenang daripada pecundang.

Apa sih penyebabnya? Apa yang terjadi dengan para pecundang?

Sebenarnya, beberapa dari mereka tidaklah benar-benar pecundang. Mereka hanya menjadi korban teror. Tepatnya, teror mental dalam kehidupan. Apa yang dimaksud dengan teror mental itu?

Menurut Sigmund Freud, pengalaman masa kecil seseorang akan menentukan seberapa tinggi pencapaian yang akan dapat diraih oleh yang bersangkutan ketika dewasa. Bila seorang anak terlalu sering menerima “teror” dari orang tua, para guru, teman dan lingkungan yang berupa cacian, hinaan, pelecehan dan sebagainya, maka hampir bisa dipastikan bahwa anak itu akan mengalami hambatan dalam meraih masa depan yang baik. Ia menjadi rendah diri dan akan menjelma sebagai “prototipe” seorang pecundang kelak di kemudian hari. Apalagi kalau teror-teror kehidupan itu berlangsung tidak hanya sebatas masa kecil, tapi juga dialami di masa remaja, terus ke masa dewasa saat usia produktif.

Cercaan, sindiran, penghinaan serta pelecehan yang dialami di usia dewasa tentu akan lebih berbahaya daripada yang diterima di masa kecil. Sebab, pada masa dewasa produktif, rasa kebanggaan diri (self-esteem) sudah tumbuh di dada setiap individu. Konsekuensinya adalah, pelecehan yang “mengena” dan “menikam” ke dalam hati seseorang, dapat dengan serta merta menghancurkan harga diri yang bersangkutan. Hancurnya harga diri akan diikuti dengan hancurnya juga kepercayaan diri, motivasi serta naluri kepemimpinan. Kalau sudah demikian, maka kita tinggal menunggu waktu saja bahwa akan segera muncul seorang pecundang lagi.

Yang ironis, teror-teror kehidupan yang terjadi di usia dewasa itu kebanyakan dilontarkan bukan oleh orang tua atau guru, tapi justru oleh kolega. Bisa teman sekantor, bisa teman bisnis, atau bisa juga rekan sekomunitas yang tentunya memiliki motivasi negatif, seperti iri hati, dengki atau merasa tersaingi.

Lantas, bagaimana cara mengatasi masalah ini?

Seorang sahabat saya di dunia spiritual pernah memberikan solusi yang dia sebut sebagai “The Thinking Paradox” (TTP). Solusi ini cukup sederhana untuk dimengerti, tapi butuh waktu untuk kita mampu melakukannya dengan mulus. Sesuai dengan namanya, The ThinkingParadox mengajak kita untuk membalikkan cara berpikir. Misalnya, kalau kita dilecehkan oleh satu, beberapa atau bahkan sekelompok orang dalam komunitas yang sama, jangan buru-buru berkecil hati.

Lihat dulu apa kira-kira motivasi para peleceh tersebut. Pada banyak kasus, orang-orang yang mencerca umumnya adalah orang-orang yang tidak tulus mengoreksi pihak lain. Aksi mereka lebih banyak didorong oleh nafsu menjatuhkan, karena rasa dengki atau merasa tersaingi. Nah, dalam hal seperti ini, TTP justru menganjurkan kita untuk berempati serta melimpahkan rasa kasihan pada mereka. Para nabi di jaman dulu juga melakukan hal yang sama: berempati bahkan mendoakan para peneror saat mereka dilecehkan habis-habisan oleh komunitasnya sendiri.

Mengapa pula kita harus berempati pada orang yang mencerca kita?

Karena, apa yang dicercakan itu sesungguhnya lebih mencerminkan kualitas diri para pencerca sendiri. “Buruk muka, cermin dibelah”, begitu kata peribahasa.

Namun demikian, juga harus ingat bahwa jika para pencerca berkesempatan untuk melecehkan, kemungkinan memang ada suatu kekeliruan yang kita lakukan. Dan ini yang dilihat oleh mereka sebagai peluang untuk menjatuhkan.

Yang perlu kita yakini adalah, aspirasi positif tidak akan pernah salah (karena aspirasi negatif bukanlah aspirasi, melainkan kejahatan). Yang bisa salah adalah tindakan, karena sifatnya teknis. Kesalahan teknis relatif mudah diperbaiki, dan itu lumrah-lumrah saja. Oleh karenanya, tidak ada alasan untuk kita menyalahkan diri sendiri, apalagi sampai menganggap diri inferior, bodoh atau semacamnya. Jangan sekali-kali terpancing oleh provokasi para pendengki.

TTP menganjurkan kita untuk berterima kasih kepada para pencerca dan peleceh itu. Karena mereka telah mengingatkan kita bahwa ada kekeliruan yang telah kita buat. Merekalah yang telah memberi kesempatan pada kita untuk memperbaiki kesalahan teknis tersebut

Pertanyaannya kemudian, mengapa pula mereka harus mencerca dan melecehkan? Bukankah ada cara yang lebih elegan?

Melecehkan dan mencerca adalah ciri khas paling menonjol yang hanya bisa keluar dari mulut para pecundang sendiri. Secara tidak disadari, mereka mengira bahwa semua orang sama pecundangnya seperti mereka. Sehingga, bukannya berusaha meningkatkan kualitas diri, mereka justru mencari-cari kelemahan orang lain untuk dijatuhkan.

Lalu, bagaimana agar kita tetap bisa mempertahankan diri agar selalu memiliki “Kualitas Sang Juara” serta tidak terpancing untuk ikut-ikutan bermental pecundang?

Sebagaimana yang dianjurkan oleh Steve Jobs, pendiri Apple Corporation, ingat saja kata-kata: “Tetaplah bodoh, tetaplah lapar!” Seorang juara tidak segan menganggap dirinya bodoh, karena dengan merasa bodoh, ia akan selalu bersemangat untuk belajar dan memperbaiki diri. Di samping itu, dengan merasakan dirinya lapar, ia juga akan selalu terdorong untuk melayani dan berbagi. Kepada siapa saja, termasuk pada para pecundang!

Rusman Hakim

Pengamat Kewirausahaan

Gacerindo Training Center

Oleh: ekodewi | 5 Juli 2010

Berpikiran Positif Jalan menuju Sukses

Berpikiran Positif jalan menuju Sukses

Percaya atau tidak, sikap kita adalah cermin masa lampau kita, pembicara kita di masa sekarang dan merupakan peramal bagi masa depan kita. Maksudnya apa ? Ya, bahwa kondisi masa lalu, sekarang dan masa depan kita dapat tercermin dari bagaimana sikap kita sehari-hari. Camkan satu hal, sikap kita merupakan sahabat yang paling setia, namun juga bisa menjadi musuh yang paling berbahaya.

Bagaimana sikap mental kita adalah sebuah pilihan; positif ataukah negatif.

W.W. Ziege pernah berkata.”Tak akan ada yang dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, tak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat membantu seorang yang sudah bermental negatif.

Jika kita seorang yang berpikiran positif, kita pasti mampu menghasilkan sesuatu. Kita akan lebih banyak berkreasi daripada bereaksi. Jelasnya, kita lebih berkonsentrasi untuk berjuang mencapai tujuan-tujuan yang positif daripada terus saja memikirkan hal-hal negatif yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kehidupan dan kebahagiaan seseorang tidaklah bisa diukur dengan ukuran gelar kesarjanaan, kedudukan maupun latar belakang keluarga. Yang dilihat adalah bagaimana cara berpikir orang itu. Memang kesuksesan kita lebih banyak dipengaruhi oleh cara kita berpikir.

Ingat perkataan Robert J. Hasting, “Tempat dan keadaan tidak menjamin kebahagiaan. Kita sendirilah yang harus memutuskan apakah kita ingin bahagia atau tidak. Dan begitu kita mengambil keputusan, maka kebahagiaan itu akan datang”.

Dengan bersikap positif bukan berarti telah menjamin tercapainya suatu keberhasilan. Namun, bila sikap kita positif, setidak-tidaknya kita sudah berada di jalan menuju keberhasilan. Berhasil atau tidaknya kita nantinya ditentukan oleh apa yang kita lakukan di sepanjang jalan yang kita lalui tersebut.

Dari beberapa buku yang saya baca beberapa tips berikut terbukti cukup membantu. Cobalah untuk menjalankan kegiatan-kegiatan berikut ini sebanyak mungkin dalam hidup kita. Sebagaimana untuk mencapai hal-hal lainnya, untuk menjadi seorang yang berpikiran positif, prosesnya harus dilakukan secara terus-menerus :

1. Pilihlah sebuah kutipan yang bernada positif setiap minggunya dan tulislah kutipan tadi pada selembar kartu berukuran 3 x 5. bawalah kartu tadi setiap hari selama seminggu. Baca dan camkanlah kutipan tadi secara berkala dalam sehari dan jadikan afirmasi, misalnya di meja kerja Anda, di dashboard mobil, atau di cermin kamar mandi. Jadikanlah setiap kutipan tersebut bagian pemikiran Anda selama seminggu itu.

Contoh :
“Seorang pemimpin yang baik adalah yang bisa membesarkan semangat dan harapan-harapan kepada anak buahnya.” (Napoleon Bonaparte). “Hari ini saya ingin menolong orang sebanyak mungkin” (Harry Bullis)

2. Pilihlah seseorang yang dalam hidup Anda yang Anda anggap berpikiran negatif. Cobalah cari hal-hal yang positif dalam diri orang itu dan ubahlah pikiran-pikiran negatif Anda mengenai orang tersebut dengan hal-hal positif tadi. Sebagai orang beragama, tolong doakan pula orang tersebut dengan hal-hal positif tadi dan mohonlah agar Tuhan menolongnya.

3. Pilih satu hari istimewa dalam seminggu dan jadikanlah hari itu sebagai “hari 10″. Bangunlah pada pagi hari dan yakinlah bahwa setiap orang yang akan Anda temui bernilai “10″, dan perlakukanlah mereka secara demikian. Anda pasti akan heran sendiri melihat tanggapan yang akan Anda peroleh dari orang-orang yang selama ini Anda anggap remeh.

4. Tandai suatu hari dalam seminggu sebagai “hari berpikiran positif.” Hapuslah kata-kata “tidak dapat,” “tidak pernah,” atau kata-kata lain yang senada, usahakan agar Anda menemukan cara untuk mengatakan apa yang bisa Anda lakukan.

5. Paling tidak sekali dalam seminggu, carilah suatu kesempatan untuk bisa memberi kepada orang lain dengan tulus. Lakukanlah suatu yang khusus pada suami/istri ataupun anak-anak Anda. Berbuatlah suatu kebaikan pada seseorang yang belum Anda kenal.

Manfaat Berpikir Positif dan Senyum

Sudah tidak diragukan lagi bahwa hanya dengan berpikir positif badan kita menjadi sehat, tidak sakit-sakitan, atau bahkan sukses dalam bisnis. Memang dengan berpikir positif urat-urat saraf kita menjadi tidak tegang, sehingga pikiran menjadi jernih, mudah memutuskan hal-hal yang penting. Selain berpikir positif, senyum juga sangat besar pengaruhnya terhadap diri kita. Saya sering menganjurkan teman-teman meluangkan waktunya untuk tersenyum.

Orang yang sedih bisa gembira dengan senyum. Orang marah akan reda jika bisa tersenyum. Jika tidak bisa tersenyum, dipaksakan untuk tersenyum dengan cara menarik ujung bibir seperti orang yang sedang tersenyum. Dengan cara tersebut sudah terbukti mengendorkan urat saraf yang tegang.

Dalam buku The Secret juga diungkapkan bahwa pikiran positif menjadi dasar utama dalam mencapai kesuksesan. Bahkan orang yang sakit pun akan sembuh hanya dengan berpikir positif. Tetapi mudahkah kita untuk berpikir positif?

Pertanyaan tersebut tentu jawabannya akan berbeda-beda tergantung siapa yang menjawab. Ketika saya belum mengenal seseorang, saya akan mudah untuk berpikir positif, tetapi ketika saya sudah mengenal sampai kulit-kulitnya, agak susah untuk berpikir positif. Contohnya ketika salah seorang teman mempunyai kebiasaan suka membuang sampah sembarangan, atau setiap kali ada dia tempatnya menjadi kotor, saya akan sulit sekali berpikiran bahwa dia adalah orang yang selalu menjaga kebersihan. Tetapi saya mengakalinya dengan berkata dalam hati “Oo mungkin dia belum tahu pentingnya kebersihan”.

Yang lebih saya tidak suka dan sulit sekali berpikir positif adalah ketika melihat orang yang suka mengeluh. Sedikit-sedikit mengeluh. Menghadapi masalah kecil terasa besar, dan seakan-akan sudah tidak ada jalan keluarnya. Jika melihat orang seperti ini cepat-cepat saya tinggal pergi, takut terkena virus mengeluhnya.

Jadi, dengan berpikir positif dan senyum, hati menjadi tenang, pikiran menjadi jernih, saraf tidak tegang, dan bekerja akan menjadi lebih lagi. Mari kita mulai hari-hari dengan berpikir positif dan senyum serta syukur!

12 CARA MEMBANGUN SIKAP “BERPIKIR POSITIF”

Pernahkah kamu menghadapi situasi dimana harus memutuskan atau menentukan pilihan, tapi diri kamu dipenuhi keragu – raguan karena berbagai pertimbangan tentang “bisakah aku?” “jangan – jangan”………….”, “Kalau……lalu bagaimana ?” Sementara sahabatmu dengan penuh percaya diri memberimu semangat dengan jawaban “ah……….itu sih gampang”,…….Siapa takut?”

Kamu dan sahabatmu punya perbedaan yang sangat berpengaruh dalam menentukan keberhasilan, yaitu cara melihat sesuatu bisa dari sisi positif, bisa juga dari sisi negative, atau yang kita kenal “Negative and Positive Thinking”.

Berpikir Positip ternyata memberikan peluang seseorang untuk menjadi seorang pemimpin. Oleh karenanya “berpikir Positip” merupakan materi penting yang diberikan dalam training CEO (Chief Executive Officer) di dunia manager. Bahkan keberhasilan Miss Universe Th. 2005 ternyata sangat ditentukan oleh prinsip hidupnya yang selalu berpikir positip. Ini terbukti dari pengakuannya pada saat juri bertanya : “Apa yang anda anggap paling penting dalam hidup kamu ? dengan penuh keyakinan dia menjawab : Saya selalu belajar dan mencoba untuk berpikir positif. Dengan berpikir positif akan memberikan dampak cukup kuat pada Kedamaian Dunia. Dan ternyata jawaban itulah yang membuatnya terpilih menjadi Miss Universe Th. 2005.

Sangat berarti untuk membangun sikap dan perilaku positif. Ada 12 Tips cara untuk membangun sikap menjadi lebih Positif, antara lain :

1. kamu bisa memilih bersikap Optimis.

Orang yang pesimis itu focus kepada yang negative (seperti memandang segelas air sebagai setengah kosong/air yang sudah tak ada). Sedangkan yang optimis focus memandang yang positif (seperti memandang segelas air sebagai setengah penuh) Siapakan yang lebih baik cara pandangnya? Siapakah yang lebih mungkin bahagia, lebih yakin dan lebih pasti?

2. Kamu bisa memilih menerima segalanya apa adanya

Ini tidaklah berarti bahwa kamu menjadi tak semangat dan menyerah. Artinya kamu tidak bergumul, merengek, dan memebenturkan kepalamu ke tembok ketika segalanya tidak beres. Sebenarnya perilaku yang menjadikan kamu korban yang tiada berdaya (yang memakanmu itulah yang menambah beban atas semangatmu). “Terimalah segalanya apa adanya, bukan seperti yang kamu angankan saat ini. Masa lalu sudah lewat, masa depan masih misteri dan saat inilah karunia, itulah sebabnya saat ini disebut “present = hadiah”. Oleh karenanya saat ini pergunakanlah sebaik – sebaiknya.

3. Kamu bisa memilih cepat pulih

Mengembangkan sikap – sikap positif tidaklah berarti bahwa kamu tidak akan pernah mengalami kepedihan, penderitaan, atau kekecewaan. Selain itu, mengembangkan sikap – sikap positip tidaklah berarti kamu seharusnya mengabaikan masalah. Masalahpun selalu mempunyai sisi sebaliknya. Kalau kamu gagal dalam ujian, belajarlah lebih giat lagi atau cari pembimbing. Kalau kamu kehilangan teman, perbaikilah persahabatan tersebut, atau mencari teman baru. Kalau kamu tidak suka penampilanmu, kembangkanlah kepribadian kamu yang fantastis.

4. Kamu bisa memilih cerita

Mulailah dengan menolak hal – hal yang suram, sungginglah senyum. Kalau kamu melontarkan kata – kata yang positif, prmikiran – pemikiran yang positif, dan perasaan – perasaan yang positif, maka orang – orang (serta hal – hal) yang positif akan tertarik kepadamu.

5. Kamu bisa memilih bersikap antusias.

Sambutlah setiap harinya dengan semangat. Laksanakanlah tugas – tugasmu dengan penuh semangat. Semakin kamu bersemangat, maka semakin orang – orang disekelilingmu punmerasa dan bersikap demikian, “Semangatlah…. .!”

6. Kamu bisa memilih lebih peka.

Kalau kamu lebih peka terhadap masalah – masalah potensial, maka kamu bisa lebih siap menghadapinya dan bahkan mengelak. Kamu juga bisa peka terhadap pengalaman – pengalaman positif. Misal, bila kamu dengar pengumuman tentang uji coba tim atau klub baru, maka catatlah waktu dan tempatnya dan berencanalah mengikutinya, kamu akan memperoleh sesuatu hal yang baru.

7. kamu bisa memilih humor.

Kalau kamu melakukan sesuatu yang konyol (semua orangpun pernah) jangan melewatkan peluang untuk menertawakan diri sendiri. Itulah salah Satu sukacita besar kehidupan. Kalau kamu banyak tertawa, kamu akan sehat. Tawa itu mengeluarkan kimiawi tertentu dalam tubuhmu yang merangsangmu dan dapat memebantumu bertumbuh dengan sehat. Humor dan tertawa itu sehat.

8. Kamu bisa memilih sportif

Sportif artinya menerima kekalahan dengan positif sambil tersenyum, menjabat tangan sang pemenang, tidak menyalajkan orang lain taua keadaan atas kekalahan itu. Sikap ini bisa memenangkan teman seandainyapun kamu tidak memenangkan pertandingan atau kompetisinya. “Sportif” berarti pula tidak perlu mengejek yang kalah ketika kamu menang.

9. Kamu bisa memilih rendah hati

Kalau kamu benar benar berkepentingan terhadap sesame, mereka akan melihat kualitas baikmu seandainyapun kamu tidak mengiklankannya. Mereka tidak akan merasa bahwa kamu berusaha memanipulasi mereka, berbuatlah untuk sesama karena Tuhanmu

10. Kamu bisa memilih bersyukur

Renungkanlah : Mungkin banyak sekali yang bisa kamu syukuri. Rasa syukur membuatmu tersenyum. Itu membuatmu senang dengan kehidupanmu. Dan orang lain pun senang di dekatmu. Bersyukur bisa memberikan ketenangan bagi dirimu.

11. kamu bisa memilih beriman

Bagi sementara orang, ini berarti percaya kepada Allah Yang Maha Kuasa atau kuas yang lebih tinggi lainnya. Beriman artinya percaya bahwa segalanya akan beres bagimu dan bahwa kamu bisa membereskan segalanya sendiri. Kalau kamu perkirakan akan gagal, mungkin mencapai sasaranmu.

12. Kamu bisa memilih berpengharapan

Pengharapan mungkin merupakan sikap positifmu yang terpenting dasar bagi segala sikap poritif lainnya. Apakah yang kamu harapkan? Apa sajakah impianmu?Apa sajakah ambisimu? Maksudmu dalam kehidupan ini? Kalau kamu mau mempertimbangkan pertanyaan – pertanyaan tersebut kamu sudah menjadi individu yang berpengharapan. “Pengharapan adalah sesuatu yang bersayap – Yang hingga pada Jiwa – Dan bersenandung tanpa kata – Dan tidak pernah berhenti – sama sekali.

“Semoga harapanmu tercapai dan mulialah dari hari ini”

Siapa yang ingin sukses ?

Kuncinya selalu berpikir positif!
Buang jauh-jauh hal-hal negatif; juga kalimat-kalimat negatif dari pikiran Anda !

Jangan pernah ada lagi kalimat-kalimat seperti :

“Pasti gagal;
Kami belum pernah melakukannya;
Kami tak sanggup melakukannya;
Saya belum siap melakukannya;
Itu bukan tanggung jawab kami; dan sebagainya”.

Selamat mencoba, dan ………………………………………….
SEMOGA sukses senantiasa bersama kita yang selalu berusaha maksimal
menggapainya.

Life For Success

Salam Trainer,

HENDRY RISJAWAN

Oleh: ekodewi | 30 Juni 2010

Balkon View

Ada seorang psikolog menyatakan bahwa kita harus sekali-kali pindah menuju ke balkon view karena dari sanalah kita bisa melihat secara keseluruhan dan mengetahui apa saja yang masih kurang dan perlu pembenahan. Yah balkon view memang kita butuhkan tatkala kita sedang stagnan merasakan apa yang sedang dilakukan saat ini hanyalah sekedar rutinitas belaka, ketika naik menuju balkon view kita akan merasakan suatu perasaaan yang sangat menggairahkan sehingga kadang2 menghasilkan inovasi2 baru yang brilian dan tidak diduga sama sekali, balkon view juga sangat dibutuhkan tatkala kita merasakan futur, merasakan hati kita kering kerontang sehingga diperlukan suatu lompatan suasana yang akan kembali menghidupkan gelora hati menjadi bergairah kembali dan menggeliat dengan sangat atraktif

Oleh: ekodewi | 29 Juni 2010

Merubah paradigma

Sebuah paradigma ternyata tidak begitu saja mudah untuk diubah, hal ini terlihat ketika saya melakukan pelatihan penulisan soal untuk guru-guru smp banda aceh dan aceh besar beberapa hari yang lalu, ketika mereka menikmati berbagai simulasi yang diberikan ada saja yang menyeletuk “wah kalau anak-anak di sekolah kami sih, tidak bisa diajak bermain seperti ini, bisa-bisa kacau balau nanti kelasnya….”
Yah itulah paradigma guru-guru kita ….

Oleh: ekodewi | 29 Juni 2010

Rahasia Qiyamul Lail

Rahasia Menikmati Qiyamul Lail hingga Batu dan Permata Terlihat Sama
Suara Pembaca
9/11/2009 | 21 Zulqaedah 1430 H | Hits: 3.378
Oleh: Agung Yulianto
Kirim Print

dakwatuna.com – Seorang tabi’in berkata, “Sungguh jika tiada sepertiga malam terakhir, aku tidak betah hidup di dunia ini”. Mereka benar-benar mereguk kenikmatan tiada tara saat berkhalwat dengan Tuhannya. Namun mengapa kita belum bisa merasakannya?

Berbagai keutamaan qiyamul-lail sudah kita baca atau kita dengar dari para ulama. Kita pun sudah beberapa kali mencoba melaksanakannya, dengan mujahadah (kesungguhan) melawan kantuk dan dinginnya malam. Namun, berkali-kali juga kita mengalami futur (lalai), tidak dapat lagi melaksanakan qiyamul-lail.

Maklumat dan pemahaman perihal keutamaan Qiyamul-Lail sudah sama-sama mafhum. Jika belum silakan googling saja dengan keyword “qiyamul lail”, atau mampir toko buku maka akan kita jumpai puluhan buku tentang keutamaan qiyamul-lail. Namun mengapa demikian berat untuk taf’il (melaksanakan) Qiyamul Lail tersebut?

Menurut saya, sebabnya adalah karena kita belum dapat menikmatinya. Sehingga pikiran bawah sadar kita masih merasakan bahwa qiyamul-lail itu beban yang berat.

Waktu sepertiga malam, saat dimana bumi mengeluarkan gelombang kekhusyu’an (alfa), sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan” (Al-Muzammil 6). Seharusnya, saat-saat inilah dzikir dan bacaan Al-Quran kita lebih berkesan, hati lebih mudah bergetar ketika Asma Allah disebut. Jiwa kita lebih bening sebening embun pagi di dedaunan. Air mata lebih mudah meleleh bahkan tertumpah dan tak kuasa kita hentikan. Hati menjadi halus dan lembut, sehingga hijab kita dengan Allah semakin transparan. Pendeknya inilah surga dunia yang telah dinikmati oleh para sahabat, tabi’in dan salafus saleh. Maukah kita memperolehnya?

Mengapa kita belum bisa menikmati Qiyamul Lail? Mungkin karena kita kurang “Mujahadah” (memaksakan diri). Ya, betul… Namun bukan itu maksud saya. Bisa jadi pada waktu-waktu yang lalu kita sudah mujahadah, namun lagi-lagi giliran futur itu datang.

Kita sulit qiyamul-lail dan hati kita mati karena kita masih melakukan banyak maksiat dan dosa. Bukankah maksiat dan dosa akan menimbulkan noktah hitam di hati hingga hati kita menjadi kasat dan mati. Doa yang kita panjatkan tidak di istijabah oleh Allah SWT. Ya, betul sekali, sangat tepat…! Tapi saya ingin berangkat dari perspektif lain.

Perspektif lain itu adalah, kita tidak dapat menikmati qiyamul-lail, dan masih banyak melakukan maksiat adalah karena “kita belum mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT”. Hati kita masih diisi oleh selain Allah, masih jauh dari Allah.

Mari pertama-tama kita niatkan dan azzamkan diri kita bahwa kita sangat ingin untuk taqarrub mendekatkan diri kepada-Nya.

Dari Abu Hurairah RA disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah bersabda, ‘Aku menuruti prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Kalau ia mengingat-Ku dalam hati, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Kalau ia mengingat-Ku di tengah kerumunan orang, Aku pun akan mengingatnya di tengah kerumunan yang lebih baik daripada mereka. Kalau ia mendekat diri kepada-Ku sejengkal, Aku pun mendekatkan Diri kepadanya sehasta. Kalau ia mendekatkan diri pada-Ku sehasta. Aku pun akan mendekatkan Diri padanya sedepa. Jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil”.

Waktu-waktu di keseharian kita, masih sunyi dari dzikir kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang duduk dalam suatu tempat, lalu di situ ia tak berdzikir kepada Allah, maka kelak ia akan mendapat kerugian dan penyesalan” (HR Abu Dawud). Dalam keseharian kita, di ketika mandi, di perjalanan kantor, istirahat, hati dan pikiran kita tidak dzikir kepada Allah dan lantas diisi oleh selainnya. Bahkan! bangun tidur kita lupa berdoa, masuk dan keluar kamar mandi lupa berdzikir, selesai makan lupa memuji dan berterima kasih kepada-Nya. Astaghfirullah… beristighfarlah berulang kali saudaraku. Rasakanlah penyesalan dan biarkan air matamu meleleh…

Mulai detik ini isilah setiap relung hati dan celah pikiran dengan dzikir kepada Allah. Di setiap waktu dalam 24 jam hidup kita isilah dengan dzikir. Jika kita melakukannya, bahkan dalam tidur pun kita tetap bermimpi berdzikir dan bershalawat. Banyak dzikir-dzikir singkat, seperti dua kalimat yang paling berat di sisi Allah, yaitu, “SubhanaLlahi wabihamdihi… SubhanaLlahil-azhiem…”. Atau dengan beristighfar, “Astaghfirullah… astaghfirullah…”, bertasbih, “Subahanallahi… subhanallahi”. Bahkan cukup dengan menyebut asma Allah, “Allah… Allah… atau Yaa Allah.. Ya Allah”. Lakukanlah di manapun, dan kapan pun, bahkan multitasking sambil melakukan pekerjaan-pekerjaan sehari-hari. Jika ada waktu senggang, dzikir yang paling utama adalah Al-Quran. Membaca Al-Quran, mentadabburinya, menghafalnya, mengulang hafalan atau bahkan sekadar mendengarkan kaset murattal Al-Qur’an sambil kita mengendarai kendaraan.

Dzikir ini akan mengikis dosa dan kotoran jiwa, seperti mengikis karat hingga kemilau emas muncul kembali. Dengan sendirinya, dzikir akan mencegah kita berbuat dosa dan maksiat lagi. Ketika kita akan berbuat sesuatu yang dilarang Allah, hati yang telah dipenuhi Asma Allah akan otomatis menolaknya.

Dzikir akan semakin menghaluskan hati kita. Semakin memudahkan kita menangis dalam berbagai kondisi. Semakin memahami hakikat dan semakin ma’rifat kepada Allah. Suatu ketika ada sekelompok sahabat yang telah mengalami kehausan karena kehabisan minuman dalam perjalanan safar berhari-hari. Ketika mereka menemukan sebuah sumber air, segera mereka minum dan membasahi muka sepuas-puasnya. Namun ada seorang sahabat yang justru ketika ia akan mengambil air ia menangis sesenggukan. Sahabat lain pun bertanya, “Mengapa engkau menangis padahal Allah memberikanmu minuman pada saat kehausan?”.

Sahabat tersebut berkata, “Ketika aku membaca doa “Allahumma bariklana fii maa razaqtana waqina adzabannaar”, terbayang olehku penduduk neraka yang lebih haus dariku namun diharamkan padanya meminum air sedikit pun. Firman Allah: “Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (Al-A’raaf: 50). Subhanallah, sahabat tersebut mampu menangkap hakikat kalimat “waqina adzabannar” dalam doa mau makan dan minum, karena ia selalu berdzikir mengingat Allah.

Jika dalam setiap tarikan nafas kita selalu berdzikir, dalam setiap langkah kita diikuti dengan dzikir, maka akan muncul banyak keajaiban dalam hidup kita. Allah akan mengaruniai limpahan kenikmatan yang menisbikan kenikmatan dunia. Barulah kita bisa memahami kisah dalam hadits berikut :

Diriwayatkan bahwa Haritsah RA berkata kepada Rasulullah SAW, “Pagi ini, saya menjadi mukmin yang sebenarnya”. Beliau berkata kepadanya, “Seorang Mukmin yang benar itu memiliki hakikat. Lantas apa hakikat dari keimananmu?” Ia menjawab, “Saya jauhkan diriku dari dunia, hingga di mataku BATU dan PERMATA terlihat sama….”

Subhanallah… batu dan permata terlihat sama. Espass dan Alphard terlihat sama!

Kita lanjutkan haditsnya:

“… Saya seakan-akan melihat singgasana Tuhanku tampak nyata. Saya seakan-akan melihat penduduk surga bersenang-senang di dalam surga dan penduduk neraka disiksa di dalam neraka.” Beliau SAW berkata, “Hai Haritsah, kamu telah mengetahuinya. Karena itu, istiqomahlah”. Inilah mungkin yang dalam tasawuf disebut “Kasyaf”.

Saudaraku, mari hidupkan hati, lembutkan jiwa dengan selalu berdzikir kepada Allah SWT. Barulah kita bisa menikmati indahnya dan nikmatnya Qiyamul Lail. Berikutnya kita akan merasakan berbagai kenikmatan spiritual dan ayat-ayat keajaiban Allah dalam hidup kita.

Mari penuhi hidup kita dengan dzikir, dan perhatikan apa yang akan terjadi.

Oleh: ekodewi | 29 Juni 2010

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.